Santa Sabina, Martir – Santo Santa 29 Agustus

Santa Sabina Martir 29 Agustus dalam lukisan klasik Katolik dengan mahkota dan daun palma

Santa Sabina, Martir: Teladan Iman dan Keteguhan Hati – 29 Agustus

Santa Sabina, Martir yang Dikenang Gereja pada 29 Agustus

Setiap tanggal 29 Agustus, Gereja Katolik mengenang Santa Sabina, Martir, seorang perempuan Kristen dari Roma yang dihormati karena kesetiaan dan keteguhannya dalam iman kepada Kristus. Meskipun informasi historis mengenai kehidupan Santa Sabina sangat terbatas dan sebagian kisahnya berasal dari tradisi hagiografis yang ditulis jauh setelah masa hidupnya, namanya telah lama hidup dalam ingatan Gereja sebagai salah seorang martir Kristen awal.

Santa Sabina dikaitkan dengan komunitas Kristen di Roma pada abad kedua. Tradisi menyebutkan bahwa ia berasal dari kalangan bangsawan dan merupakan seorang janda. Ia kemudian mengenal dan memeluk iman Kristen melalui pengaruh Serapia, seorang perempuan yang menjadi hambanya. Ketika Serapia menghadapi penganiayaan karena imannya, Sabina tidak meninggalkan keyakinannya. Ia justru tampil sebagai seorang Kristen yang teguh dan akhirnya mengalami kemartiran.

Kisah Santa Sabina Martir mengingatkan umat Kristiani bahwa iman tidak hanya tampak ketika kehidupan berjalan mudah. Iman justru menjadi semakin nyata ketika seseorang harus mempertahankan kebenaran, kasih, dan kesetiaan kepada Tuhan dalam keadaan sulit.

Gereja mengenang Santa Sabina bukan terutama karena banyaknya informasi sejarah mengenai dirinya, melainkan karena kesaksian iman yang diwariskan melalui tradisi Gereja. Perayaannya pada 29 Agustus menjadi kesempatan untuk merenungkan arti kesetiaan kepada Kristus serta keberanian hidup sebagai seorang Kristen.

Baca juga Santo Santa Bulan Agustus

Siapakah Santa Sabina?

Santa Sabina dikenal sebagai seorang martir Kristen yang hidup pada masa awal perkembangan Gereja. Menurut tradisi yang berkembang mengenai dirinya, Sabina adalah seorang perempuan Romawi yang memiliki kedudukan sosial cukup tinggi. Ia disebut sebagai janda Valentinus dan kemudian menerima iman Kristen melalui kesaksian Serapia.

Tradisi mengenai Santa Sabina perlu dibaca dengan sikap historis yang hati-hati. Sumber-sumber kuno mengenai dirinya tidak semuanya memiliki nilai sejarah yang sama. Catholic Encyclopedia bahkan menegaskan bahwa kisah kemartirannya yang kemudian beredar tidak dapat dianggap sebagai sumber sejarah yang sepenuhnya dapat diandalkan.

Karena itu, ketika membahas kisah Santa Sabina, penting untuk membedakan antara fakta yang relatif kuat mengenai penghormatan Gereja terhadap dirinya dan unsur-unsur tradisional yang berkembang kemudian.

Yang cukup jelas adalah bahwa Santa Sabina telah lama dihormati sebagai martir Kristen Roma. Gereja mengenangnya setiap 29 Agustus, dan namanya sangat erat dengan Basilika Santa Sabina di Bukit Aventino, Roma.

Baca juga Kalender Liturgi Katolik Agustus 2026 Lengkap

Santa Sabina dan Pertobatannya kepada Kristus

Salah satu bagian yang paling menarik dari tradisi mengenai Santa Sabina adalah kisah pertobatannya.

Menurut tradisi, Sabina awalnya bukan seorang Kristen. Ia kemudian mengenal iman kepada Kristus melalui Serapia, seorang perempuan Kristen yang menjadi hambanya. Hubungan tersebut memperlihatkan sesuatu yang penting: kesaksian iman tidak selalu datang dari orang yang memiliki kedudukan sosial tinggi.

Dalam masyarakat Romawi, perbedaan status sosial sangat besar. Namun di dalam iman Kristen, martabat manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, jabatan, atau kedudukan. Kesaksian seorang perempuan sederhana seperti Serapia dapat menjadi jalan yang membawa seseorang seperti Sabina kepada Kristus.

Di sinilah terdapat salah satu pesan penting dari kehidupan Santa Sabina Martir. Tuhan dapat menggunakan siapa saja untuk menyampaikan kebenaran Injil.

Serapia tidak memiliki posisi politik ataupun kekuasaan. Namun kehidupannya menjadi kesaksian. Melalui dirinya, Sabina mengenal iman Kristiani dan kemudian mengambil keputusan untuk mengikuti Kristus.

Kisah ini juga menunjukkan bahwa evangelisasi sering kali dimulai melalui hubungan yang sangat sederhana: persahabatan, keluarga, pelayanan, keteladanan, atau kehidupan sehari-hari.

Baca juga Santo Yohanes Pembaptis: Wafat 29 Agustus

Serapia, Perempuan yang Menjadi Jalan Iman bagi Sabina

Dalam tradisi Santa Sabina, nama Serapia tidak dapat dipisahkan dari kisah pertobatannya. Serapia disebut sebagai perempuan Kristen yang memberikan pengaruh besar kepada Sabina. Vatican News juga mencatat bahwa Sabina menjadi Kristen melalui pengaruh Serapia.

Hal ini memberikan pelajaran rohani yang sangat relevan bagi umat Katolik masa kini.

Tidak semua orang dipanggil menjadi pengkhotbah terkenal. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk berbicara di hadapan banyak orang. Namun setiap orang dapat memberikan kesaksian melalui kehidupan sehari-hari.

Seorang anak dapat menjadi teladan bagi teman-temannya. Seorang ibu dan ayah dapat mengajarkan iman melalui kehidupan keluarga. Seorang guru dapat memperlihatkan kasih dan kejujuran. Seorang pekerja dapat menjadi saksi Kristus melalui tanggung jawab dan integritas.

Serapia mungkin tidak meninggalkan banyak tulisan atau karya besar. Namun dalam tradisi Santa Sabina, kesaksiannya mempunyai dampak yang mendalam.

Dari sini kita dapat belajar bahwa kesaksian iman Katolik tidak selalu diukur berdasarkan popularitas. Kadang-kadang, satu kehidupan yang setia dapat mengubah kehidupan orang lain.

Baca juga Beato Ghabra Mikael, Martir – Santo Santa 30 Agustus

Masa Penganiayaan terhadap Umat Kristen

Santa Sabina hidup pada masa ketika komunitas Kristen masih menghadapi berbagai bentuk tekanan dan penganiayaan. Vatican News menggambarkan abad kedua sebagai salah satu periode berat bagi komunitas-komunitas Kristen awal.

Kekristenan pada masa itu belum memiliki posisi sosial dan politik seperti yang dikenal Gereja pada masa-masa berikutnya. Banyak umat Kristen harus menjalankan iman mereka dalam situasi yang tidak mudah.

Dalam keadaan seperti itu, pengakuan iman bukanlah sesuatu yang dapat dianggap sepele.

Menjadi seorang Kristen berarti berani mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Bagi sebagian orang, pengakuan tersebut membawa konsekuensi sosial maupun hukum.

Tradisi Santa Sabina menggambarkan dirinya sebagai seorang perempuan yang tidak meninggalkan iman setelah menyaksikan penderitaan Serapia. Ketika ia sendiri berhadapan dengan tekanan, ia tetap mempertahankan keyakinannya kepada Kristus.

Di sinilah makna kemartiran Santa Sabina menjadi penting.

Martir bukanlah orang yang mencari penderitaan. Martir adalah orang yang tetap setia kepada kebenaran dan kepada Kristus ketika kesetiaan tersebut menuntut pengorbanan besar.

Baca juga Bacaan Injil Hari Ini Sabtu, 29 Agustus 2026 Markus 6:17-29

Kemartiran Santa Sabina

Menurut tradisi yang disampaikan Vatican News, Santa Sabina dibawa ke hadapan Prefek Elpidius dan didesak untuk meninggalkan iman Kristennya. Namun ia tetap mempertahankan pengakuan imannya dan akhirnya dihukum mati. Sumber tersebut menempatkan kemartirannya sekitar tahun 120.

Sumber-sumber lain memberikan perkiraan tanggal yang sedikit berbeda, sekitar tahun 126. Karena itu, angka tahun tersebut sebaiknya dipahami sebagai perkiraan tradisional, bukan sebagai tanggal sejarah yang dapat dipastikan secara mutlak.

Yang menjadi pusat kisah bukanlah detail mengenai cara kematiannya, melainkan kesetiaan Santa Sabina kepada Kristus.

Ia tidak membiarkan tekanan membuatnya menyangkal iman. Kesaksiannya menjadi bagian dari tradisi Gereja mengenai para martir awal yang mempertahankan iman di tengah situasi sulit.

Bagi umat Katolik, kemartiran merupakan bentuk kesaksian yang sangat kuat. Seorang martir menunjukkan bahwa Kristus lebih berharga daripada kenyamanan, status, bahkan kehidupan duniawi.

Makna Kemartiran dalam Kehidupan Kristiani

Ketika mendengar kata "martir", kita mungkin langsung berpikir tentang orang-orang yang mengalami penganiayaan berat karena iman. Namun semangat kemartiran juga memiliki makna yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak semua umat Kristiani dipanggil untuk menghadapi penganiayaan seperti para martir Gereja perdana. Tetapi setiap orang dipanggil untuk setia kepada Kristus.

Kesetiaan tersebut dapat terlihat dalam hal-hal sederhana:

  • berani berkata jujur ketika berbohong lebih menguntungkan;
  • tetap melakukan kebaikan meskipun tidak dipuji;
  • tidak membalas kebencian dengan kebencian;
  • mempertahankan nilai-nilai Injil ketika lingkungan mengajak kepada hal yang bertentangan;
  • mengampuni ketika kita terluka;
  • menjaga kehidupan doa ketika kesibukan semakin besar;
  • berani mengakui iman tanpa merendahkan orang lain.

Dengan demikian, teladan Santa Sabina tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga berbicara kepada umat Katolik masa kini.

Kesetiaan kepada Kristus dimulai dari keputusan-keputusan kecil setiap hari.

Basilika Santa Sabina di Bukit Aventino

Nama Santa Sabina sangat erat dengan salah satu gereja kuno yang terkenal di Roma, yaitu Basilika Santa Sabina all'Aventino.

Menurut Vatican News, basilika tersebut dibangun pada awal abad kelima, sekitar tahun 422–432, di atas lokasi yang berkaitan dengan Titulus Sabinae. Relikui Santa Sabina dan Serapia kemudian dihormati di sana.

Basilika ini memiliki tempat penting dalam sejarah Gereja Roma. Bahkan hingga sekarang, Santa Sabina menjadi salah satu gereja penting dalam tradisi liturgi Roma. Vatican News menyebutnya sebagai gereja stasi pertama dalam masa Prapaskah, tempat Paus menyampaikan homili pada Rabu Abu.

Keberadaan basilika tersebut menunjukkan bagaimana ingatan terhadap para saksi iman terus dipelihara dalam kehidupan Gereja.

Bangunan gereja bukan hanya sebuah peninggalan sejarah. Ia menjadi ruang doa tempat generasi demi generasi umat Kristiani mengenang karya Allah dalam kehidupan para kudus.

Santa Sabina dan Tradisi Gereja Roma

Basilika Santa Sabina juga memiliki hubungan penting dengan sejarah Ordo Dominikan. Vatican News mencatat bahwa Santo Dominikus mendirikan ordonya di tempat tersebut pada tahun 1219.

Hubungan ini memperlihatkan bahwa tempat yang berkaitan dengan Santa Sabina kemudian menjadi salah satu lokasi penting dalam perkembangan spiritualitas Katolik.

Dengan demikian, nama Santa Sabina tidak hanya dikenang dalam kalender liturgi. Warisan penghormatannya juga hadir melalui sejarah gereja, liturgi, seni, doa, dan kehidupan komunitas Kristiani.

Lambang Santa Sabina: Kitab, Palma, dan Mahkota

Dalam seni Kristiani, Santa Sabina biasanya digambarkan dengan beberapa atribut tertentu.

Vatican News menyebut bahwa Santa Sabina digambarkan dengan kitab, daun palma, dan mahkota, mengikuti salah satu representasi awal dirinya yang berasal dari abad keenam di Gereja Sant'Apollinare Nuovo di Ravenna.

Setiap atribut memiliki makna spiritual.

Kitab

Kitab melambangkan Sabda Allah dan iman yang menjadi dasar kehidupan seorang Kristen.

Bagi seorang martir, iman bukan sekadar identitas. Iman adalah kebenaran yang dihidupi dan dipertahankan.

Daun palma

Daun palma merupakan simbol klasik kemenangan seorang martir.

Dalam tradisi Kristiani, palma mengingatkan bahwa kesetiaan kepada Kristus pada akhirnya membawa kemenangan rohani. Martir tidak dipandang sebagai orang yang kalah, melainkan sebagai saksi yang telah menyelesaikan perjuangan imannya.

Mahkota

Mahkota melambangkan kemuliaan surgawi yang dijanjikan kepada mereka yang setia kepada Tuhan.

Karena itu, gambaran Santa Sabina dengan kitab, palma, dan mahkota menjadi sebuah "teologi visual" yang sederhana: iman kepada Sabda Allah, kesetiaan dalam penderitaan, dan pengharapan akan kehidupan kekal.

Santa Sabina dan Pelajaran tentang Keberanian

Salah satu nilai utama dari kisah Santa Sabina adalah keberanian.

Keberanian Kristiani bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian berarti tetap melakukan yang benar meskipun terdapat alasan untuk mundur.

Dalam kehidupan sehari-hari, keberanian semacam ini dapat terlihat ketika seseorang memilih kejujuran daripada kebohongan, kasih daripada kebencian, dan pengampunan daripada dendam.

Santa Sabina mengajarkan bahwa iman membutuhkan keteguhan.

Dunia dapat berubah. Situasi dapat berubah. Pendapat orang lain dapat berubah. Tetapi seorang Kristen dipanggil untuk tetap menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupannya.

Teladan Santa Sabina bagi Keluarga Katolik

Santa Sabina juga dapat menjadi inspirasi bagi keluarga-keluarga Katolik.

Keluarga adalah salah satu tempat pertama di mana iman diperkenalkan. Anak-anak belajar mengenal Tuhan bukan hanya melalui pelajaran agama, tetapi melalui teladan orang-orang terdekat.

Orang tua dapat meneladani semangat Santa Sabina dengan membangun keluarga yang:

  1. menjadikan doa sebagai bagian dari kehidupan;
  2. mengutamakan kasih dan pengampunan;
  3. menghargai kebenaran;
  4. membantu anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan;
  5. mengajarkan iman melalui tindakan nyata;
  6. tidak mudah menyerah dalam menghadapi persoalan.

Kesaksian iman yang sederhana dalam keluarga dapat menjadi sangat kuat.

Sebagaimana Sabina mengenal Kristus melalui kesaksian Serapia, demikian pula seseorang dapat mengenal kasih Tuhan melalui kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Teladan Santa Sabina bagi Kaum Muda

Bagi kaum muda Katolik, Santa Sabina memberikan pesan tentang identitas dan keberanian.

Pada zaman ketika seseorang mudah mengikuti tekanan kelompok, mempertahankan keyakinan pribadi dapat menjadi tantangan. Keinginan untuk diterima oleh lingkungan terkadang membuat seseorang takut berbeda.

Santa Sabina mengingatkan bahwa menjadi pengikut Kristus berarti memiliki keberanian untuk memilih apa yang benar.

Namun keberanian Kristiani tidak berarti memusuhi orang lain. Sebaliknya, seorang Kristen dipanggil untuk menyampaikan iman dengan kasih, menghormati sesama, dan menjadi teladan melalui kehidupan yang baik.

Iman yang kuat tidak harus keras. Iman yang kuat justru dapat terlihat dalam kelembutan, kesabaran, kejujuran, dan konsistensi.

Santa Sabina dan Kesetiaan dalam Hal-Hal Kecil

Salah satu cara terbaik untuk memahami teladan Santa Sabina adalah dengan melihat kesetiaan sebagai sesuatu yang dibangun setiap hari.

Seseorang tidak tiba-tiba menjadi kuat ketika menghadapi ujian besar. Keteguhan biasanya dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan kecil.

Doa setiap hari membentuk hati yang dekat dengan Tuhan.

Membaca Kitab Suci membentuk pikiran yang mengenal Sabda Allah.

Melakukan kebaikan membentuk hati yang peka terhadap kebutuhan sesama.

Mengakui kesalahan membentuk kerendahan hati.

Mengampuni membentuk hati yang bebas dari kebencian.

Semua hal tersebut merupakan latihan rohani yang membantu seorang Kristen bertumbuh dalam kesetiaan.

Karena itu, mengenang Santa Sabina 29 Agustus bukan sekadar membaca kisah seorang martir dari masa lampau. Hari pestanya dapat menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri:

"Apakah saya sungguh setia kepada Kristus dalam kehidupan sehari-hari?"

Mengapa Gereja Mengenang Para Martir?

Gereja mengenang para martir bukan untuk memuliakan penderitaan. Gereja mengenang mereka karena kehidupan para martir memberikan kesaksian tentang nilai iman yang mereka hidupi.

Para martir menunjukkan bahwa Injil bukan sekadar teori. Injil dapat menjadi prinsip hidup yang sungguh-sungguh menentukan pilihan seseorang.

Kisah Santa Sabina Martir mengingatkan umat bahwa iman membutuhkan kesetiaan.

Para martir juga membantu umat melihat bahwa Gereja dibangun melalui kesaksian banyak orang yang memberikan diri bagi Kristus. Mereka menjadi bagian dari sejarah panjang umat Allah.

Dalam arti ini, pesta Santa Sabina menjadi sebuah perayaan pengharapan. Gereja percaya bahwa kesetiaan kepada Kristus tidak pernah sia-sia.

Pesan Rohani Santa Sabina untuk Kita

Ada beberapa pesan penting yang dapat direnungkan dari kehidupan Santa Sabina.

Iman dapat tumbuh melalui kesaksian orang lain

Sabina mengenal iman melalui Serapia. Hal ini mengingatkan kita bahwa kehidupan kita juga dapat menjadi jalan bagi orang lain untuk mengenal Kristus.

Jangan takut mempertahankan kebenaran

Kesetiaan kepada Kristus membutuhkan keberanian. Kita dipanggil untuk tetap melakukan yang benar meskipun tidak selalu mudah.

Status sosial bukan ukuran kekudusan

Tradisi Santa Sabina memperlihatkan hubungan antara seorang perempuan bangsawan dan seorang hamba dalam perjalanan menuju iman. Kekudusan tidak ditentukan oleh status sosial, melainkan oleh keterbukaan hati terhadap Allah.

Kesetiaan dimulai dari kehidupan sehari-hari

Menjadi saksi Kristus tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang luar biasa. Kesetiaan kepada Tuhan dapat diwujudkan melalui kasih, kejujuran, doa, pelayanan, dan pengampunan.

Doa Memohon Teladan Santa Sabina

Berikut doa sederhana yang dapat digunakan umat Katolik ketika mengenang Santa Sabina pada 29 Agustus:

Doa kepada Santa Sabina

Santa Sabina, martir Kristus yang setia,
engkau telah memilih untuk mengikuti Tuhan
dan tetap teguh dalam iman di tengah kesulitan.

Doakanlah kami agar memiliki hati yang kuat,
iman yang teguh, dan kasih yang tulus.
Bantulah kami agar tidak mudah menyerah
ketika menghadapi tantangan dalam kehidupan.

Ajarlah kami untuk berani melakukan kebenaran,
setia dalam doa,
mengampuni mereka yang bersalah kepada kami,
dan menjadi saksi kasih Kristus bagi sesama.

Semoga melalui teladan hidupmu,
kami semakin dekat kepada Yesus Kristus
dan semakin setia menjalankan Injil.

Santa Sabina, martir Kristus,
doakanlah kami. Amin.

Renungan 29 Agustus: Apakah Kita Berani Setia?

Baca juga Renungan Katolik 29 Agustus 2026: Yohanes Pembaptis

Peringatan Santo Santa 29 Agustus, khususnya Santa Sabina, mengajak kita melihat kembali arti kesetiaan.

Kita mungkin tidak menghadapi situasi yang sama seperti umat Kristen pada zaman Romawi. Namun kita tetap menghadapi berbagai bentuk tantangan dalam menjalankan iman.

Ada saat ketika kita harus memilih antara kejujuran dan keuntungan pribadi.

Ada saat ketika kita harus memilih antara mengampuni dan menyimpan kebencian.

Ada saat ketika kita harus memilih antara mengikuti tekanan lingkungan dan mempertahankan nilai yang benar.

Di dalam situasi seperti itu, kita dapat belajar dari Santa Sabina.

Kekudusan tidak selalu tampak dalam peristiwa besar. Kekudusan sering kali tumbuh dalam keputusan-keputusan kecil yang dilakukan dengan setia.

Ketika kita memilih kasih daripada kebencian, kita sedang belajar menjadi saksi Kristus.

Ketika kita memilih kejujuran daripada kebohongan, kita sedang memberikan kesaksian.

Ketika kita berdoa bagi orang yang menyakiti kita, kita sedang belajar hidup menurut Injil.

Ketika kita tetap percaya kepada Tuhan di tengah kesulitan, kita sedang belajar memiliki iman yang teguh.

Santa Sabina sebagai Teladan Gereja Masa Kini

Kisah Santa Sabina tetap relevan karena manusia selalu membutuhkan teladan tentang kesetiaan.

Gereja masa kini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dari dunia Romawi abad kedua. Namun pertanyaan mendasarnya tetap sama: apakah manusia bersedia menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupannya?

Santa Sabina mengingatkan bahwa iman harus diwujudkan dalam pilihan nyata.

Seorang Katolik tidak dipanggil hanya untuk mengatakan bahwa dirinya percaya kepada Kristus. Ia juga dipanggil untuk hidup menurut ajaran Kristus.

Karena itu, peringatan Santa Sabina dapat menjadi momentum untuk memperbarui komitmen iman.

Bukan dengan mencari kesulitan, melainkan dengan menjalani kehidupan sehari-hari secara lebih setia.

Kesimpulan: Santa Sabina, Martir yang Mengajarkan Keteguhan Iman

Santa Sabina, Martir, yang diperingati setiap 29 Agustus, merupakan salah satu figur martir Kristen awal yang dikenang oleh Gereja Roma. Tradisi menyebutkan bahwa ia mengenal iman Kristiani melalui Serapia dan kemudian tetap teguh ketika menghadapi penganiayaan.

Walaupun detail sejarah mengenai kehidupannya tidak semuanya dapat dipastikan, penghormatan terhadap Santa Sabina telah berlangsung selama berabad-abad. Basilika Santa Sabina di Bukit Aventino menjadi salah satu bukti penting mengenai kuatnya tradisi penghormatan tersebut.

Kisahnya mengajarkan keberanian, kesetiaan, ketekunan, dan pentingnya kesaksian hidup. Ia mengingatkan kita bahwa iman bukan sekadar kata-kata, melainkan pilihan hidup.

Pada 29 Agustus, ketika Gereja mengenang Santa Sabina, kita dapat mengambil waktu untuk bertanya: apakah iman kita semakin bertumbuh? Apakah kehidupan kita menjadi kesaksian bagi orang lain? Apakah kita tetap setia kepada Kristus ketika menghadapi kesulitan?

Semoga teladan Santa Sabina membantu kita untuk semakin mencintai Kristus, berani melakukan kebaikan, dan tetap setia dalam perjalanan iman.

Santa Sabina, martir Kristus, doakanlah kami.

Sumber dan catatan sejarah

Informasi mengenai Santa Sabina perlu dibaca dengan membedakan tradisi hagiografis dan data sejarah. Vatican News menyebutnya sebagai martir Roma dari abad kedua dan menempatkan kemartirannya sekitar tahun 120, sementara Catholic Encyclopedia memberikan perkiraan sekitar tahun 126 dan sekaligus memperingatkan bahwa Acts of the Martyrdom yang menjadi dasar sebagian kisah tradisional tidak memiliki nilai sejarah yang kuat.

Gereja mengenang Santa Sabina pada 29 Agustus, dan relikui yang dikaitkan dengannya serta Serapia dihormati di Basilika Santa Sabina di Aventino, Roma.

Demikianlah Santa Sabina, Martir – Santo Santa 29 Agustus, semoga bermanfaat, Tuhan Memberkati. Amin.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url